Masa trainer usai sudah. Guru pemandu dipenuhi sesak idealisme dan optimisme (atau bahkan mungkin kebingungan?) yang memunculkan berbagai pertanyaan. Barangkali 5W1H tidak cukup mampu menampung keragaman yang muncul. Dan memang itulah seharusnya,"kebaruan memang selalu memunculkan pertanyaan". Bukankah itu lebih baik dibanding kebaruan yang memunculkan kebingungan?
Kenyataan, belantara pusat eksplorasi guru pemandu yang bernama KKG, bukanlah hutan kota yang nyaman dengan taman tertata rapi. Ada banyak arogansi di sana, ada chauvinis bertopeng senioritas, ada pesimisme, ada kemalasan, ada kemunafikan terbungkus selembar kertas profesi, dan keberadaan keniscayaan lain yang menyebabkan guru pemandu harus tergagap-gagap menyikapi situasi. Kenyataan yang demikian keruh nyaris saja melunturkan optimisme dan kembali menyuburkan kebingungan yang telah terbibit selama ini. Cukupkah kesaktian yang hanya diperoleh 10 hari menjadi pamungkas demikian banyak masalah?
Selalu ada yang pertama, demikian pepatah bijak berkata. Dan itulah yang menjadi penanda apakah sebuah daun akan gugur atau terus tumbuh subur. Jika Mario Teguh menyemangati, "Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba. karena di situlah kita menemukan dan membangun kesempatan untuk berhasil". Maka, itulah langkah pertama bagi seorang guru pemandu untuk mengklaim dirinya gugur atau tumbuh.
Sebuah cerita menarik muncul dari tiga gugus di Kecamatan Kismantoro, Gugus Madyantara, Gugus Setia, dan Gugus Muser Indah. Sampai pertemuan kedua, pertemuan ketiga, guru pemandu masih dibingungkan dengan kegagalan, kolaborasi antar guru pemandu pun dimunculkan berawal dari pertanyaan sederhana, "Apa salahnya berkolaborasi? Toh sepuluh kepala lebih baik dari satu kepala?" Mulailah ketiganya membangun kebersamaan sebagai manifestasi kata mencoba. Realisasinya, H-1 menjelang pertemuan KKG, guru pemandu ketiga gugus merencanakan pola apa yang sebaiknya dipakai untuk pemberdayaan peserta, bagaimana langkahnya, indikasi hambatan yang muncul, perkiraan tingkat responsi peserta, dan yang penting lagi seberapa jauh guru pemandu mampu mengakses konsep-konsep pemanduan dalam pertemuan. Jadi semacam RPP-lah bentuknya. Selama ini yang merupakan kesulitan level satu adalah aktivitas dan mengajak peserta untuk menjadi produsen tugas terstrutur, tagihan atau bentuk produk yang lain. Bahkan ada rumor yang berkembang, tugas dan tagihan inilah yang menjadi faktor penyebab mengapa kehadiran peserta KKG menjadi rendah. Nah lo....??
Beberapa manfaat dapat diambil dalam perencanaan pertemuan di H-1 tersebut. Bahkan saking semangatnya, ada kalanya guru-guru pemandu ini harus berdebat sengit untuk memutuskan konsep apa yang memang diindikasikan layak untuk ditampilkan. Sisi lain, pertemuan secara tidak langsung menjadi outodidac learning community bagi pesertanya. Nah!! Aneh khan! Mengapa demikian. Tunggal guru, dan yang jelas rasa malu ternyata menjadi penyemangat bagi peserta untuk sebelum hadir di lokasi melakukan pemahaman terhadap berbagai hal sehubungan materi pembahasan pertemuan itu.
Pucuk dipinta ulam pun tiba. Penyemangat pun datang tanpa diundang. Ada beberapa jabatan hirarkis di tingkat kecamatan yang tergugah kepeduliannya untuk cawe-cawe atas usaha positif guru pemandu ini. Pengawas, atau kepala sekolah pun terkadang menyempatkan hadir sekedar berpartisipasi menyumbangkan ide dan inisiatifnya yang barangkali dapat membantu menggiatkan guru pemandu. (Sayangnya informal metting seperti ini tidak terdokumentasi!!). Namun kehadiran mereka lebih dari cukup bagi guru pemandu. Nah Bagaimana hasil akhir di lapangan???
Pertemuan pertama pasca informal metting, ternyata yahud juga. Di Gugus Madyantara ketiga guru pemandu yang saat itu menerapkan model map mapping dengan pola kelompok materi kajian kritis, mau tidak mau harus geleng-geleng kepala dengan aktivitas peserta. Nyaris hanya beberapa gelintir peserta saja yang terkesan memiliki aktivitas rendah selama pelaksanaan kegiatan. Kiganya dapatlah tersenyum simpul ketika beberapa orang guru super senior (karena 2 tahun lagi pensiun) harus berdebat panjang lebar dengan sesama anggota kelompok mempermasalahkan model bahasa yang harus dipergunakan untuk presentasi nantinya. Toh demikian ada juga kata sayangnya, ternyata satu kelompok harus gerundelan karena sebelum mereka tampil presentasi, waktu pertemuan telah habis. Walah...
Memang betul Mario Teguh, tugas kita memang bukanlah untuk berhasil...... Jadi untuk guru pemandu, mencoba dan membangun kesempatan untuk berhasil itulah yang paling perlu. So, kalau ada guru pemandu yang kemudian gugur meski baru di langkah pertama tentu kita perlu bertanya, "Guru Pemandu, ada apa denganmu?"
Tampilkan postingan dengan label KKG BERMUTU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KKG BERMUTU. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 Februari 2011
Sabtu, 12 Februari 2011
GURU PEMANDU, Ada Apa Denganmu?
Guru Pemandu? Wah jabatan cukup keren untuk ukuran seorang guru. Bagaimana tidak! Seorang guru pemandu memiliki oversize di mata guru yang lain. Kesan guru minimalis tidak mungkin dimiliki oleh seorang guru pemandu. Guru Pemandu jelas berimage maximalis. Ada kelebihan tertentu yang tersebunyi dalam diri seorang guru pemandu. Nah inilah masalahnya!! Maximalis manakah yang sebaiknya dimiliki oleh seorang guru pemandu?
Dalam kamus Bahasa Indonesia kata guru tidak perlu diterangkan lagi, kata pemandu berasal dari kata pandu yang artinya penunjuk jalan, perintis jalan itupun belum seberapa! Jika kata pandu mendapatkan awalan pe- jadilah pemandu yang artinya orang atau benda yang menjadi penunjuk jalan atau perintis jalan. Clear khan? Nah itulah hebatnya pemandu. So... Tentunya guru pemandu adalah guru yang menjadi penunjuk jalan (bagi guru yang lain?). Ingat kata Lord Boden Powel,"Tanpa ada langkah pertama maka tidak akan pernah ada langkah kedua" atau barangkali ingat kata Neil Amstrong saat pertama kali menginjak bulan,"That's one small step for man, one giantleap for mankind...," Itulah Pemandu yang sebenarnya!!!! Meskipun hanya langkah kecil, pasti akan menjadi pembuka bagi sebuah langkah besar atau langkah pertamalah yang paling penting untuk menuju langkah kedua. Itulah esensinya seorang guru menjadi guru pemandu.
Sayangnya, (ini yang jadi pikiran nggak enak) menjadi orang pertama selalu harus berhadapan dengan orang kedua dst... Mengajak kaki melangkah pertama sangatlah berat, apalagi jika jalan yang ingin dilalui terjal berliku. Langkah kecil sekalipun harus diimbangi dengan cucuran keringat, diimbangi dengan semangat yang tak mudah patah, dan dibarengi keberanian yang tak pernah padam. Berat khan untuk menjadi yang pertama. Itulah mengapa seorang guru pemandu bukanlah guru dengan pengetahuan minimalis. Keleluasaan pola pikir dan kekuatan mainstrean serta haus akan pengetahuan merupakan bentuk dari maksimalis seoarang guru pemandu, masih ditambah lagi kemampuan manajerial (meski ini rata-rata sudah setting default guru) yang tidak out of date.
Tuntutan (kalo boleh dibilang gitu!!) demikian wajib hukumnya. Ituah sebabnya dalam konsep KKG Bermutu (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) guru pemandu memiliki peran strategis sebagai ujung tombak (berdoa saja bukan sebagai ujung tombok). Artinya di tangan guru pemandulah keberhasilan program KKG Bermutu dipertaruhkan. Untuk itulah, kepada mereka terlebih dahulu dibekali dengan berbagai strategi selama kurang lebih 10 hari di lokasi yang jelas nyam-nyam dan wah-wah bagi ukuran guru sekolah dasar. Siang malang digembleng berbagai transfer ilmu dan teknologi. Mulai dari pedagogi, andragogi, komunikasi, sampai teknologi yang membuat guru pemandu tergagap-gagap. (untung bukan ilmu hipnotisnya Mang Uya Kuya). Setelahnya, dilepaskanlah para pionir ini ke dalam belantara untuk merealisasikan keilmuan mereka bagi sesama guru.. Berhasilkah!!
To be continued.......
Dalam kamus Bahasa Indonesia kata guru tidak perlu diterangkan lagi, kata pemandu berasal dari kata pandu yang artinya penunjuk jalan, perintis jalan itupun belum seberapa! Jika kata pandu mendapatkan awalan pe- jadilah pemandu yang artinya orang atau benda yang menjadi penunjuk jalan atau perintis jalan. Clear khan? Nah itulah hebatnya pemandu. So... Tentunya guru pemandu adalah guru yang menjadi penunjuk jalan (bagi guru yang lain?). Ingat kata Lord Boden Powel,"Tanpa ada langkah pertama maka tidak akan pernah ada langkah kedua" atau barangkali ingat kata Neil Amstrong saat pertama kali menginjak bulan,"That's one small step for man, one giantleap for mankind...," Itulah Pemandu yang sebenarnya!!!! Meskipun hanya langkah kecil, pasti akan menjadi pembuka bagi sebuah langkah besar atau langkah pertamalah yang paling penting untuk menuju langkah kedua. Itulah esensinya seorang guru menjadi guru pemandu.
Sayangnya, (ini yang jadi pikiran nggak enak) menjadi orang pertama selalu harus berhadapan dengan orang kedua dst... Mengajak kaki melangkah pertama sangatlah berat, apalagi jika jalan yang ingin dilalui terjal berliku. Langkah kecil sekalipun harus diimbangi dengan cucuran keringat, diimbangi dengan semangat yang tak mudah patah, dan dibarengi keberanian yang tak pernah padam. Berat khan untuk menjadi yang pertama. Itulah mengapa seorang guru pemandu bukanlah guru dengan pengetahuan minimalis. Keleluasaan pola pikir dan kekuatan mainstrean serta haus akan pengetahuan merupakan bentuk dari maksimalis seoarang guru pemandu, masih ditambah lagi kemampuan manajerial (meski ini rata-rata sudah setting default guru) yang tidak out of date.
Tuntutan (kalo boleh dibilang gitu!!) demikian wajib hukumnya. Ituah sebabnya dalam konsep KKG Bermutu (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) guru pemandu memiliki peran strategis sebagai ujung tombak (berdoa saja bukan sebagai ujung tombok). Artinya di tangan guru pemandulah keberhasilan program KKG Bermutu dipertaruhkan. Untuk itulah, kepada mereka terlebih dahulu dibekali dengan berbagai strategi selama kurang lebih 10 hari di lokasi yang jelas nyam-nyam dan wah-wah bagi ukuran guru sekolah dasar. Siang malang digembleng berbagai transfer ilmu dan teknologi. Mulai dari pedagogi, andragogi, komunikasi, sampai teknologi yang membuat guru pemandu tergagap-gagap. (untung bukan ilmu hipnotisnya Mang Uya Kuya). Setelahnya, dilepaskanlah para pionir ini ke dalam belantara untuk merealisasikan keilmuan mereka bagi sesama guru.. Berhasilkah!!
To be continued.......
Langganan:
Postingan (Atom)